REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Eskalasi konflik di Timur Tengah yang dipicu kebijakan militer Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump mulai menunjukkan dampak nyata terhadap perekonomian global. Salah satu sektor yang paling terdampak adalah industri penerbangan, yang sangat bergantung pada stabilitas harga energi.
Maskapai bertarif rendah asal Amerika Serikat, Spirit Airlines, menjadi korban terbaru dari gejolak tersebut. Perusahaan itu resmi menghentikan seluruh operasinya pada Sabtu setelah gagal memperoleh dukungan kreditur untuk rencana dana talangan federal.
Dalam pengumuman resminya, Spirit menyatakan seluruh penerbangan dibatalkan dan layanan pelanggan dihentikan. Penutupan ini menandai kebangkrutan maskapai pertama yang terjadi di tengah lonjakan harga energi akibat konflik Iran yang semakin memanas.
Lonjakan harga bahan bakar jet menjadi faktor penentu. Dalam dua bulan terakhir sejak eskalasi konflik, harga bahan bakar dilaporkan meningkat hampir dua kali lipat. Kenaikan ini secara langsung menggerus margin maskapai, terutama model bisnis berbiaya rendah yang sangat sensitif terhadap perubahan harga energi.
Di pasar global, harga minyak menunjukkan volatilitas yang tajam. Pada Jumat, harga minyak Brent sempat melonjak hampir 7 persen hingga menembus 126 dolar AS per barel, sebelum turun kembali ke kisaran 108 dolar AS di akhir sesi. Fluktuasi ini dipicu laporan mengenai opsi militer Amerika Serikat terhadap Iran yang semakin memperbesar ketidakpastian pasar.
Perdana Menteri Slovakia Robert Fico bahkan menyindir kondisi tersebut dengan pernyataan sarkastik. Ia menyebut pergerakan harga minyak kini sangat dipengaruhi oleh dinamika kebijakan di Washington.
“Semuanya berada di bawah tekanan, termasuk harga minyak, tergantung pada bagaimana Presiden Trump bangun tidur,” ujar Fico saat berbicara kepada wartawan di Bratislava, sebagaimana diberitakan RT.
Lonjakan harga energi juga diperparah oleh respons Iran yang membatasi akses kapal tertentu di Selat Hormuz, jalur vital yang menangani sekitar seperlima perdagangan energi dunia. Selain itu, ketegangan meningkat setelah serangkaian serangan balasan terhadap kepentingan militer Amerika Serikat di kawasan.
Analis menilai, kebijakan geopolitik Washington telah memperbesar ketidakpastian pasar energi global. Gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah mendorong kenaikan harga tidak hanya pada minyak, tetapi juga gas, yang turut memicu volatilitas di pasar Eropa dan Asia.
Bagi maskapai seperti Spirit Airlines, kondisi ini menjadi pukulan telak. Kenaikan biaya operasional sulit diimbangi dengan strategi tarif murah, sementara daya beli penumpang belum sepenuhnya pulih.
sumber : Xinhua

9 hours ago
3
















































