Ramai-Ramai Asia Tendang Dolar AS, Kenapa Rupiah Sendiri yang Kalah?

1 hour ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia ramai-ramai menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Namun, rupiah justru ambruk.

Nilai tukar rupiah mengakhiri perdagangan terakhir pekan ini dengan melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), Jumat (8/5/2026).

Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,17% ke level Rp17.360/US$. Pelemahan ini sekaligus mematahkan tren penguatan rupiah dalam dua hari perdagangan beruntun sejak Rabu.


Kepala Riset Ekonomi Makro dan Market Permata Bank Faisal Rachman menjelaskan, pelemahan rupiah saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian global dan meningkatnya sentimen risk-off di pasar keuangan, tetapi juga pola musiman pembayaran imbal hasil aset keuangan domestik kepada investor nonresiden.

"Pada Q2 2026 memang ada pola musiman pembayaran return aset keuangan domestik ke nonresiden yang mengakibatkan pelemahan rupiah," ujar Faisal kepada CNBC Indonesia, dikutip Jumat (8/5/2026).

Di sisi lain, ketidakpastian global juga masih membayangi pergerakan rupiah karena membuat pelaku pasar cenderung menghindari aset berisiko.


Dalam sepekan ini, rupiah sudah melemah 0,32%.

Pelemahan ini berbanding terbalik dengam mata uang Asia lainnya.Meskipun banyak mata uang Asia melemah pada Jumat tetapi dalam sepekan ini pergerakannya sangat kencang.

Ringgit Malaysia mampu menguat 1,25% terhadap dolar AS pekan ini. Begitu pula dengan peso Filipina hingga dong Vietnam.

Penguatan mata uang Asia ini ditopang oleh melemahnya dolar AS. Indeks dolar ambruk ke level 97 atau terendah sejak awal Maret 2026. Kondisi ini menandai jika investor tengah ramai menjual investasi denominasi dolar dan berburu instrument lainnya, terutama di Emerging Markets.

(mae/mae)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |