Jakarta, CNN Indonesia --
Dalam upaya mengurangi limbah plastik yang terus meningkat dan memenuhi kebutuhan energi bersih, sejumlah ilmuwan menjajaki teknologi yang memanfaatkan energi sinar matahari untuk mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar dan bahan kimia industri.
Sebuah studi terbaru yang dipimpin oleh kandidat PhD dari University of Adelaide, Xiao Lu, mengeksplorasi bagaimana sistem berbasis tenaga surya dapat mengubah limbah plastik menjadi hidrogen, syngas, dan berbagai bahan kimia lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setiap tahun, lebih dari 500 juta ton plastik diproduksi di seluruh dunia, dan sebagian besar dari limbah ini berakhir di lingkungan, mencemari tanah dan perairan.
Di saat yang sama, tekanan global untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil makin meningkat, mendorong pencarian sumber energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
"Jika kita dapat secara efisien mengubah limbah plastik menjadi bahan bakar bersih menggunakan sinar matahari, kita dapat mengatasi tantangan polusi dan energi secara bersamaan," ujar Lu, dilansir SciTechDaily. Dalam penelitiannya, ia bekerja bersama Wenjie Tian and Xiaoguang Duan.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Chem Catalysis pada April 2026 ini menunjukkan, plastik yang kaya akan karbon dan hidrogen dapat diperlakukan sebagai sumber daya berharga, bukan sekadar limbah.
Lu memperkenalkan teknik solar-driven photoreforming. Teknik ini mengandalkan bahan fotokatalis yang sensitif terhadap cahaya untuk memecah plastik pada suhu relatif rendah, menghasilkan hidrogen yang bersih dan tanpa emisi serta bahan kimia industri lainnya.
Dibandingkan dengan metode konvensional yang memproduksi hidrogen melalui pemisahan air, pendekatan ini membutuhkan energi yang lebih sedikit karena plastik lebih mudah dioksidasi. Keunggulan ini membuat teknologi ini lebih praktis untuk penggunaan skala besar.
Meski demikian, masih ada tantangan yang harus diatasi sebelum teknologi ini dapat digunakan secara luas.
Xiaoguang Duan dari School of Chemical Engineering, University of Adelaide, menyoroti kerumitan limbah plastik. Adanya beragam jenis plastik dan aditif seperti pewarna dan stabilizer menjadi hambatan utama.
Mendesain fotokatalis yang lebih baik juga jadi tantangan tersendiri. Material ini harus sangat selektif dan tahan lama, sehingga dapat bekerja dalam kondisi kimia yang keras tanpa kehilangan efisiensi.
"Kita membutuhkan katalis yang lebih kuat dan desain sistem yang lebih baik untuk memastikan teknologi ini efisien dan layak secara ekonomi dalam skala besar," ucap Duan.
Pemisahan produk akhir juga masih sulit karena proses fotokatalis menghasilkan campuran gas dan cairan yang butuh pemurnian dengan energi besar.
Untuk mengatasinya, para peneliti menyarankan strategi yang menggabungkan kemajuan dalam desain katalis, rekayasa reaktor, dan optimasi sistem.
Ide-ide tersebut, termasuk reaktor aliran kontinu, sistem yang menggabungkan energi matahari dengan panas atau listrik, dan pemantauan yang lebih baik untuk meningkatkan efisiensi.
"Dengan inovasi berkelanjutan, kami percaya teknologi [pengubahan] plastik ke bahan bakar bertenaga surya dapat memainkan peran kunci dalam membangun masa depan yang berkelanjutan dan rendah karbon," tutur Lu.
(rti)
Add
as a preferred source on Google

2 hours ago
2

















































