Jakarta, CNN Indonesia --
Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman merespons tudingan Habib Rizieq Shihab yang menyebut dirinya sebagai sosok 'Jenderal Baliho' di balik pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait Yaman.
Prabowo dalam pidato di Cilacap, Rabu (29/4) pekan lalu, menyentil keras pihak yang tidak cinta tanah air dan mempersilakan untuk kabur saja ke Yaman.
Dudung menegaskan narasi Prabowo soal Yaman bukan berasal dari dirinya dan meminta semua pihak berhenti memprovokasi situasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya, itu bukan, bukan dari saya," kata Dudung saat dimintai tanggapan di Kantor Staf Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (5/5).
Dudung mengaku tak punya lagi persoalan pribadi dengan Rizieq. Ia mengungkit kembali peristiwa penurunan baliho Front Pembela Islam (FPI) beberapa tahun lalu yang menurutnya dilakukan dalam konteks penegakan keputusan negara terhadap organisasi yang saat itu sudah dibekukan.
Menurut Dudung, langkah aparat ketika itu bukan keputusan sepihak dirinya, melainkan tindak lanjut setelah adanya laporan kepada jajaran pimpinan TNI, Polri, hingga pemerintah.
"Karena FPI itu kan waktu itu organisasi memang sudah dibekukan. Yang menguatnya itu menurut saya karena ada ajakan-ajakan revolusi akhlak, kemudian narasi-narasi yang disampaikan mengajak kegiatan-kegiatan yang menurut saya memang mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa," ujarnya.
Ia menambahkan pembubaran organisasi tersebut juga dilakukan melalui keputusan pemerintah, bukan oleh dirinya secara pribadi. Karena itu, Dudung menilai tidak tepat bila kini dirinya kembali dikaitkan dengan berbagai narasi yang disampaikan Prabowo.
Meski demikian, Dudung memilih merespons pernyataan Rizieq dengan nada menahan diri. Ia mengatakan keduanya sama-sama sudah berusia tua dan seharusnya dapat berperan meneduhkan masyarakat, bukan justru memperuncing perdebatan politik.
"Pak Rizieq sudah tua, saya juga sudah tua. Marilah kita bangun bangsa ini dengan keteduhan, dengan tidak memprovokasi," katanya.
Dudung juga menilai gaya komunikasi Rizieq tidak banyak berubah sejak dulu karena masih menggunakan narasi yang menurutnya cenderung menyerang pihak lain. Ia lalu menyinggung peran seorang ulama yang semestinya memberi ketenangan di tengah masyarakat.
"Kalau dikatakan sebagai ulama, ulama itu yang selalu meneduhkan, berpikir jernih, matanya tidak pernah merendahkan orang lain, mulutnya tidak menjelekkan orang lain, hatinya tidak berprasangka buruk kepada orang lain," ucap Dudung.
Dalam kesempatan itu, Dudung turut mengajak semua pihak menghentikan saling curiga dan saling memfitnah di tengah kondisi global yang menurutnya sedang memberi tekanan pada ekonomi, politik, dan hukum nasional.
Ia menegaskan pemerintah saat ini sedang berupaya menjaga stabilitas sehingga isu-isu provokatif dinilai justru dapat memperkeruh keadaan.
"Tidak ada lagi permusuhan, tidak ada lagi saling curiga, saling memfitnah," katanya.
Dudung juga menyebut tudingan yang diarahkan kepada orang-orang di lingkaran Presiden, termasuk Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, sebagai bentuk fitnah yang tidak perlu diperbesar. Menurut dia, rakyat tidak seharusnya terpengaruh oleh narasi yang dinilai hanya dimainkan segelintir pihak.
Pernyataan Dudung ini muncul setelah Habib Rizieq dalam ceramah yang diunggah di YouTube menyinggung pidato Presiden Prabowo soal pihak-pihak yang ingin "kabur ke Yaman".
Rizieq menduga ucapan itu dipengaruhi sosok yang ia sebut 'Jenderal Baliho', julukan yang selama ini kerap diarahkan kepada Dudung. Rizieq juga mengaitkan kembali rekam jejak Dudung saat penertiban atribut FPI hingga menyinggung sejumlah isu lama, termasuk KM 50.
(gil/del/gil)
Add
as a preferred source on Google

2 hours ago
1

















































