Jakarta, CNN Indonesia --
Ada pengakuan terbaru dari sopir mobil rombongan pengantar haji yang tertemper Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah pada Jumat (1/5) dini hari kemarin.
Sebelumnya, polisi menyatakan mobil mengalami mati mesin ketika akan melewati perlintasan sebidang yang swadaya dikelola warga tersebut sebelum tertabrak kereta. Namun, berdasarkan keterangan terbaru dari sopir--yang masih satu keluarga dengan para korban--mengatakan mobil itu tak mengalami mati mesin.
Kasat Lantas Polres Grobogan, AKP Kumala Enggar Anjarani melalui Kanit Gakkum Sat Lantas Polres Grobogan, Iptu Eko Ari Kisworo, sopir dengan nama Kardi (50) yang mengalami luka-luka dalam peristiwa itu mengaku malam itu suasananya berkabut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi, sebab salah satu korban tewas masih keluarga yang bersangkutan, kepolisian belum bisa banyak menggali keterangan dari yang bersangkutan.
"Mohon maaf, untuk pengemudi sementara baru berduka cita karena anaknya meninggal dunia juga. Sementara kita bisa minta keterangan dari pengemudi dan menjelaskan saat itu mesin tidak mati," kata Eko, Jumat (1/5) dikutip dari detikJateng.
Eko menyebut saat kejadian, pengemudi mengaku jarak pandangnya terbatas, karena adanya kabut. Keterangan tersebut juga diperkuat dengan temuan saat tertabrak, posisi mobil hanya roda depannya saja yang berada di atas rel KA.
"Pandangan benar-benar terbatas karena adanya kabut, hanya 10 meter. Tadi (informasi mati mesin) itu hanya laporan sementara, karena untuk posisi yang di atas rel itu hanya ban depannya saja," ujar Eko.
Meski jarak pandang terbatas itu, pengemudi merasa yakin untuk melintasi perlintasan sebidang tersebut. Pasalnya, kendaraan di depannya juga melintas dengan aman.
"Pengemudi menjelaskan kendaraan di depan yang melintas aman, tidak ada kereta api sehingga dia melintas. Saat melintas tiba-tiba baru melangkah ban depannya itu baru masuk ke rel yang sebelah selatan itu langsung ditabrak kereta," tutur Eko.
Eko juga menyampaikan setelah dilakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) lebih lanjut, diketahui lokasi kejadian tersebut berada di Desa Sidorejo, bukan Desa Tuko sebagaimana yang disampaikan sebelumnya.
"Relnya itu yang sebelah selatan masuk Desa Sidorejo, rel yang sebelah utara itu masuk Desa Tuko. Jadi kejadiannya itu pertama kali kita menyebutkan adalah Tuko, tetapi setelah kita bertanya-tanya, melaksanakan olah TKP hari ini, TKP ini berada di desa si Sidorejo Kecamatan Pulokulon," jelas Eko.
Keterangan kepala dusun
Dalam mobil nahas itu berisi sembilan orang yang bagian dari rombongan pengantar calon jemaah haji. Lima orang di antaranya tewas, dan sisanya mengalami luka-luka.
Kecelakaan itu terjadi pada Jumat dini hari kemarin, pukul 02.52 WIB.
Insiden ini terjadi saat mobil tersebut hendak berangkat menuju ke Pendopo Kabupaten Grobogan untuk mengantar pasangan Sadi dan Wartini yang akan berangkat ke Tanah Suci untuk berhaji.
Kepala Dusun Sidorejo, Heri Siswanto, mengungkap total ada enam kendaraan yang hendak mengantar pasutri Sadi dan Wartini berhaji. Setelah kejadian kecelakaan, hanya satu yang melanjutkan perjalanannya.
"Sebenarnya rombongannya banyak, selain dari empat mobil, masih ada dua bus. Yang turut ke Solo hanya satu, yang lainnya kembali tidak jadi mengantarkan jamaah," ujar Heri di lokasi kejadian, Jumat kemarin.
Dia menyebut korban tewas berada di iring-iringan kedua. Korban meninggal di antaranya merupakan cucu dan besan pasangan calon haji tersebut.
Heri menambahkan perlintasan kereta api tempat terjadinya kecelakaan biasa dijaga warga secara swadaya. Diketahui, perlintasan itu terletak di perbatasan Desa Sidorejo dengan Desa Tuko.
"Sebenarnya untuk penjaga [perlintasan KA], dari desa sudah mengupayakan petugas atau relawan, bahkan dari Desa Sidorejo sudah mengalokasi sebuah insentif," kata Heri.
"Tapi [dari Desa Sidorejo] hanya [menjaga] siang hari, malam ada relawan dari desa sebelah, gantian dari Desa Tuko," sambungnya.
Nahas saat kejadian, tak ada relawan yang berjaga. Pihaknya pun berharap ada perlintasan kereta otomatis.
"Saat kejadian tidak ada [yang menjaga]. Kalau yang malam kan hanya relawan, jadi kemauan sendiri, sukarela," ujar Heri.
Baca berita lengkapnya di sini.
(kid)
Add
as a preferred source on Google

1 hour ago
3

















































